Benarkan Injil Terbukti Dipalsukan

QS Al Baqoroh:79 Tak Buktikan Injil Dipalsukan

“Alkitab” adalah kata yang cukup umum. Bahkan Al Qur’an pun disebut “Alkitab”. Selain Al Qur’an, kitab Taurat, Zabur, Injil yang dijilid secara bersama-sama jadi satu buku juga disebut “Alkitab”.

Bukan hanya itu, buku biasa pun dapat disebut alkitab, sebab arti kata الكتاب “alkitab” adalah “buku” atau “buku itu” atau “buku ini”.

Benarkan Injil Terbukti Dipalsukan

Fawaylun lillatheena yaktuboona alkitababi-aydeehim thumma yaqooloona hatha min AAindi Allahiliyashtaroo bihi thamanan qaleelan fawaylun lahum mimmakatabat aydeehim wawaylun lahum mimma yaksiboona

Sahih International

So woe to those who write the "scripture" with their own hands, then say, "This is from Allah ," in order to exchange it for a small price. Woe to them for what their hands have written and woe to them for what they earn.

Indonesian

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah:79)

Kata الكتاب “alkitab” dalam makna “buku” pada ayat QS Al Baqoroh: 79 itu tidak merujuk ke Alkitab, sebab tentang Alkitab dalam makna kitab para Nabi sebelum Muhammad, Nabi Muhammad menyatakan:

Benarkan Injil Terbukti Dipalsukan

Wahatha kitabun anzalnahumubarakun musaddiqu allathee bayna yadayhiwalitunthira omma alqura waman hawlahawaallatheena yu/minoona bial-akhiratiyu/minoona bihi wahum AAala salatihim yuhafithoona . (QS Al An’aam:92) 

Sahih International

And this is a Book which We have sent down, blessed and confirming what was before it, that you may warn the Mother of Cities and those around it. Those who believe in the Hereafter believe in it, and they are maintaining their prayers. (QS Al An’aam:92)

Indonesian

Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. . (QS Al An’aam:92)

Ayat QS Al An’aam: 92 ini menunjukkan bahwa Al Qur’an diturunkan membenarkan Alkitab (Torah, kitab para Nabi, Injil). “Membenarkan” disini dalam arti صدق ‘shodiq’, yaitu: membenarkan dalam arti mengkonfirmasikan kebenaran atau memvalidasi kebenaran. Al Qur’an diturunkan mengkonfirkmasikan kebenaran Alkitab. Al Qur’an diturunkan membenarkan Alkitab dan bukannya menyalahkan Alkitab. Andai saat itu Alkitab telah dipalsukan, maka Al Qur’an menyalahkan Alkitab, bukannya membenarkannya. Kenyataannya Al Qur’an membenarkan Alkitab, bukan menyalahkannya. Kalau begitu, fenomena Al Qur’an digunakan untuk menyalahkan Alkitab adalah bukan gagasan dari Al Qur’an atau pun Nabi Muhammad. Fenomena itu hanya gagasan manusia saja.

Sampai disini kita mengetahui bahwa QS Al An’aam:92 mengindikasikan bahwa kata الكتاب ‘alkitab’ “buku” dalam QS. Al-Baqarah:79 tidak menunjuk kepada Alkitab dalam makna kitab-kitab para Nabi hingga jaman Isa Al Masih (Torat, Zabur, Injil).

QS. Al-Baqarah:79 tersebut menceritakan bahwa ada orang-orang yang bisnisnya adalah menipu. Caranya adalah dengan menulis buku dengan tangan mereka sendiri (nampaknya menulis distorsi terhadap apa yang mereka dengar), lalu mereka mengatakan bahwa buku tulisan mereka itu adalah kitab Allah.

Siapakah “mereka” itu?

Ciri dari si “mereka” terlihat dalam QS Al Baqoroh: 80

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja". Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS Al Baqoroh:80)

Cirinya adalah meyakini penyucian sementara di neraka sampai semua dosanya dihukum. Setelah itu, dia akan dimasukkan ke surga. Pandangan ini disebut “api penyucian”, tersebar dalam berbagai keyakinan kuno. Dalam bani Israil, ada golongan yang meyakini hal ini, yaitu aliran Shamait karena salah tafsir terhadap kitab-kitab para Nabi (Alkitab). Pandangan “api penyucian” dalam makna “di neraka untuk sementara” ini ditolak oleh Alkitab dan juga oleh Al Qur’an (QS Al Baqoroh: 81)

Ciri lain dari mereka adalah berkebangsaan yang diceritakan dalam surat Al Baqoroh, yaitu berkebangsaan Israil.

Kedua ciri itu merujuk kepada doktrin dari aliran Shammait yang merupakan salah satu aliran dalam mahzab Farisi. Mazhab Farisi adalah salah satu mahzab di samping mahzab Saduki dan mahzab Eseni. Dari informasi Al Qur’an ini, kita mendapati bahwa terlalu umum sekali tafsir Al Qur’an yang menyatakan bahwa orang yang membuat buku yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah:79 adalah orang Yahudi. Mengapa terlalu umum? Sebab Yahudi hanyalah salah satu dari 12 suku Israil. Al Qur’an tidak memberitahukan orang-orang dari suku Israil yang mana yang melakukan perbuatan tercela dalam QS. Al-Baqarah:79. Andaipun sudah ketemu berasal dari suku apa, orang-orang tersebut beraliran Shamait. Jadi tidak seluruh suku itu yang melakukan perbuatan itu. Kalaupun sudah diketahui dia beraliran Shamait, masih perlu pula dipertanyakan, apakah seluruh penganut aliran Shamait seperti itu? Ataukah hanya perilaku segelintir orang saja atas inisiatif pribadi?

Jadi, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa الكتاب ‘alkitab’ “buku” yang dimaksudkan dalam QS. Al-Baqarah:79 bukan Alkitab dalam makna kitab-kitab para Nabi sebelum Nabi Muhammad (Torat, Zabur, Injil, dsb), melainkan merujuk kepada buku biasa yang dikarang oleh segelintir penipu yang kebetulan menganut sekte shamait (salah satu sekte dalam mahzab Farisi). Al Qur’an membenarkan atau mengkonfirmasikan kebenaran Alkitab dalam makna kitab-kitab Allah seperti Injil, Taurat, Zabur, dan kitab nabi-nabi lainnya.

Nb:

Untuk membedakan di antara keduanya dalam artikel ini, kata “alkitab” dalam arti buku biasa kami tulis dengan huruf “a” kecil, sedangkan kata “Alkitab” dalam makna kitab-kitab para nabi yang dikonfirmasikan kebenarannya oleh Al Qur’an ditulis dengan “A” huruf besar.