Arab, bangsa non-Israil pertama yang mendengar Injil

Kisah orang Majusy dalam Injil Matius 2:1-12 sangatlah menarik.

Majusy adalah salah satu suku yg berasal dari Timur. Kata “Timur” disini tidak sekedar berarti arah mata angin, melainkan juga nama suatu daerah luas yg berada di sebelah timur daerah Palestina, yaitu jasirah Arab. Ke daerah bernama Timur inilah Ismael bin Ibrahim tinggal menetap bersama anak-anak lain Ibrahim selain Ishaq.

Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka tinggal menetap berhadapan dengan semua saudara mereka. (Torat, Kejadian 25:18)

“Tinggal menetap berhadapan” itu dapat dianalogikan bagian depan rumah tinggal anda berhadap-hadapan dengan rumah tinggal tetangga anda yang ada di depan rumah anda. Bukan saling membelakangi, juga bukan berbaris, tapi tinggal berhadap-hadapan. Ini menunjukkan persaudaraan yang erat antar anak-anak Ibrohim kala itu. Persaudaraan erat anak Ibrohim yang indah saat ini tinggal berupa mimpi masa lalu, meski bukan berarti tak bisa kita wujudkan kembali.

Daerah tempat tinggal Ismail sangat luas, yaitu meliputi sebelah timur Palestina, yaitu seluruh jasirah Arab, sampai berbatasan dengan daerah bulan sabit sebelah utara, yaitu dekat Irak.

3 raja majusy

Dan memang, orang Majusy adalah orang Arab, keturunan Ibrahim dari jalur selain Ishaq.

Perjalanan dari daerah asalnya sampai ke tanah Palestina penuh dengan perampok ganas dan juga binatang berbahaya. Bagaimana mereka bisa selamat dari para perampok ganas itu dengan membawa barang-barang berharga yg nilainya pada waktu itu sangat mahal?

Jawaban pertanyaan itu terdapat dalam Injil Matius 2:3,7
Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. (Injil, Matius 2:3 )

Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. (Injil, Matius 2:7)

Jika yg datang hanya satu orang,tentu tidak akan bisa menggemparkan satu kota besar bernama Yerusalem. Artinya,orang majusy tidak datang seorang diri, melainkan dalam rombongan besar.

Menurut tradisi lisan jemaat Purba yg diwariskan turun-temurun, orang Majusy itu adalah 3 raja yg disertai pasukannya. Itulah sebabnya mereka bisa selamat melintasi daerah padang gurun yg rawan perampok ganas, membawa barang-barang yg menurut ukuran waktu itu super mahal, dan menarik perhatian kalangan istana, bahkan sampai diundang oleh raja Herodes. Andai cuma rakyat biasa,maka kedatangan mereka pastilah tidak akan menarik perhatian kalangan istana tentunya.

Sampai sini, kita mengetahui bahwa 3 raja Arab datang dalam rombongan besar dengan membawa berbagai barang mewah ke tanah Palestina untuk mencari dimanakah Khalifatulllah Isa Al Masih (Yesus Sang Kristus) itu berada.Wow!!!

Orang Majus adalah bangsa pemuja bintang. Mereka tidak menyembah Allah. Inilah agama mereka. Namun, anehnya, Allah justru menggunakan bintang itu untuk menuntun mereka kepada Isa Al Masih (Mat 2:2,9).

dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Injil, Matius 2:2)

Allah memanfaatkan agama kafir orang Arab purba untuk memberitakan Injil kepada bangsa Arab purba. Agama kafir saja bisa Allah pakai untuk membawa suku bangsa Arab kepada Yesus, apalagi agama tidak kafir yg begitu menekankan ke-esa-an Allah sebagaimana Alkitab menekankan ke-esa-an Allah. Tentu Allah lebih bisa lagi memakainya.

Perhatikan! Allah sendirilah yg memberitakan Injil kepada bangsa Arab. Bangsa Arab adalah bangsa non-Israel pertama yang mendengar Injil dan menyembah Raja Isa Al Masih!!!!!

Mengapa Allah sengaja melakukan itu? Tidak ada jawaban lain selain karena Allah mengasihi keturunan Ismail juga, sama seperti Allah mengasihi keturunan Ishak.

Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. (Torat, Kejadian 17:20)

Berkat bagi Ismail itu besarnya sama dengan berkat bagi Ishak. Pembedanya hanya satu, yaitu melalui jalur keturunan siapa Yesus akan lahir.

18. Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

19. Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

20. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Is’haq, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” (Torat,Kejadian 17:18-21)

Dalam huruf proto Kanaan (diperkirakan berasal dari zaman Ibrohim hidup),kata “perjanjian” disimbolkan dengan gambar salib

salib
(lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Hebrew_alphabet )

Pembedanya hanya satu itu saja. Dan ketika perjanjian itu terwujud dengan kelahiran Al Masih, Allah tidak melupakan keturunan Ismael. Dengan segera, Allah memberitakan Injil kepada bani Ismail (bukan hanya kepada bani Is’haq), agar perjanjian itu dinikmati oleh seluruh keturunan Ibrahim, baik keturunan jasmani maupun keturunan rohani Ibrahim.

Bangsa Arab telah mendengar Injil berabad-abad lebih dulu dibanding bangsa Indonesia loh