Menutup Pintu Sorga

Trinitas Konsili Nicea

Istilah “Trinitas” pertama kali dicetuskan oleh Tertullian yang punya nama lengkap Quintus Septimius Florens Tertullianus (160-220 M ). Tertullian adalah seorang apologet (hujjatul iman ) yang berasal dari bangsa Berber yang adalah penduduk asli Afrika Utara, meliputi Libya, Tunisia, Algeria, dan Maroko. Tokoh modern bangsa Berber yang terkenal antara lain Zinedine Zidane (bintang sepak bola dunia ).

Karena Tertullian adalah orang Berber dan bekerja sebagai pengacara atau yuri di pengadilan Kartage (Kartago ), Afrika Utara, maka tentu saja, istilah “Trinitas” lahir di Kartage, Afrika Utara.

Trinitas Konsili Nicea

Banyak orang nampaknya tidak pernah mengira bahwa istilah “Trinitas” lahir dari bangsa Berber di Kartage, Afrika Utara dan salah kira dengan mengira istilah “Trinitas” berasal dari Yunani.

Istilah Trinitas itu dimunculkan Tertullian sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan audiensnya pada saat itu, mengingat hujjah (apologetika ) tidak pernah lepas dari konteks sosial dan konteks theologis yang ada di sekitar si apologet (hujjatul iman ). Tertullian menggunakan istilah “Trinitas” dalam makna Τρεις υποστάσεις, ομοουσιος ‘Trīs hupostasīs homoūsios’ ‘Tiga Sifat, Satu Dzat’ atau “3 esensi, satu substansi” untuk menjelaskan ke-Esa-an Tuhan, yaitu bahwa substansi (Dzat ) Tuhan itu satu, satu Dzat Tuhan Yang Maha Esa itu memiliki tiga sifat pokok (esensi ). Penyederhanaan berlebihan terhadap konsep Tuhan tersebut nampaknya diperlukan untuk kondisi masyarakat yang dihadapi oleh Tertullianus. Namun, perlu kami katakan bahwa metode penjelasan tersebut tidak berlaku untuk segala konteks.

Konsep Tertullian tidak diterima oleh umat Al Masih Timur, meski istilah “Trinitas” itu sendiri tidak dipermasalahkan. Faktor penolakkannya nampaknya berada pada konteks: konteks umat Al Masih Timur berbeda dengan konteks yang dihadapi oleh Tertullian.

Umat Al Masih Timur memahami ungkapan kias “Bapa, Anak, Dzat Sang Kudus” dalam makna: Allah, IlmuNya (esensiNya ), dan Dzat-Nya (substansi-Nya ) adalah satu Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti, makna istilah “Trinitas” bagi umat Al Masih Timur adalah bahwa Allah, IlmuNya, dan DzatNya bukanlah tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan saja, yaitu Allah yang bersubstansi Dzat dan yang beresensi (bersifat Dzatiyah ) Ilmu.

TertullianTertullian menggunakan istilah “Trinitas” pada sekitar tahun ±200 Masehi atau ±125 tahun (±1¼ abad ) sebelum berlangsungnya konsili Nicea ). Tertullian selaku pencetus istilah “Trinitas” itu sendiri tidak pernah menghadiri konsili Nicea, karena sudah wafat pada tahun 220 M (105 tahun sebelum konsili Nicea ).