Penyaliban Kristus Yesus Tuhan

imageKEGELAPAN yang menyelimuti bukit Golgota mulai jam dua belas siang sampai jam tiga sore, menjadi saat yang cukup mendebarkan. Bayangan kesedihan, kesuraman, kengerian, penderitaan emosional dan penderitaan secara psikologis, kehampaan, kekeringan, ketakberdayaan seorang Anak Manusia yang tergantung di kayu salib, merasa ditinggalkan sendiri dalam siksa yang menyayat hati. "Eli, Eli, lama sabakhtani?" teriak Yesus dalam kesedihan yang mendalam.

Yesus meratap bukan karena putus asa, tetapi itulah ekspresi UNGKAPAN IMAN yang paling dalam. Dari kegelapan ADA HARAPAN dan KEPERCAYAAN kepada Allah. Karena Yesus mati di kayu salib melalui puncak kegelapan DOSA kita, kita yang sering mengalami kehampaan dan kegelapan serta merasa ditinggalkan sendirian, Allah senantiasa beserta kita. Allah tidak pernah meninggalkan Yesus, Allah juga tentu tidak akan meninggalkan kita umat pilihan-NYA sendiri.

Alkitab mencatat, pada saat PENYALIBAN banyak orang yang mengejek dan menantang-Nya untuk menunjukkan KUASANYA sebagai Allah. Namun Dia tidak menanggapi keraguan dan tantangan orang banyak itu. Orang-rang zaman itu TIDAK PERCAYA bahwa Allah MAMPU menjelma menjadi manusia melalui kelahiran dari rahim seorang perempuan bernama Maria. Mereka juga tidak percaya bahwa Allah, pencipta alam semesta dan manusia membiarkan diri-Nya di siksa bahkan DISALIBKAN sampai mati oleh manusia ciptaan-Nya.

Namun, DIA mati walaupun manusia tidak percaya. Pada hari yang ketiga, DIA bangkit dari kematian-Nya. Pada hari keempat puluh, Dia naik ke surga. Dan pada hari kelima puluh, Dia membaptis manusia dengan Roh Kudus. Saya tidak merasa heran kalau masih ada yang meragukan Yesus Kristus adalah Allah. Itu bukan hal baru. Itu sudah terjadi sejak purbakala.