Allah Itu Suci

Disepanjang Alkitab (hampir 600 kali), Allah disebut sebagai “suci”. Suci artinya karakter Allah secara moral murni dan sempurna dalam semua jalanNya. Sempurna. Ini berarti Dia tidak pernah mempunyai pikiran tidak murni atau inkonsisten dengan kesempurnaan eksistensi moralNya.
Karena itu, kesucian Allah berarti Dia tidak bisa hadir jika ada kejahatan. Karena kejahatan bertentangan dengan keberadaan Allah, Dia membencinya. Itu seperti polusi bagiNya.
Tapi jika Allah itu Suci dan menolak kejahatan, kenapa Dia tidak membuat karakter kita seperti Dia?  Kenapa ada yang melecehkan anak-anak, pembunuh, pemerkosa, dan penyesat?  Dan kenapa kita terus berjuang dengan pilihan-pilihan moral kita sendiri? Hal ini membawa kita lebih lanjut pada pencarian kita akan arti (kehidupan). Apa yang Yesus katakan mengenai diri kita/Manusia ?
Manusia diciptakan Untuk Berhubungan Dengan Allah

Jika Anda membaca seluruh Perjanjian Baru, Anda akan menemukan bahwa Yesus terus-menerus berbicara tentang nilai yang tinggi (berharga) diri kita bagi Allah, Yesus mengatakan kepada kita bahwa Allah menciptakan kita untuk jadi anakNya. Dengan kata lain, sebelum alam semesta diciptakan, Allah berencana untuk mengadopsi kita menjadi keluargaNya. Tidak hanya itu, tapi Dia merencanakan warisan luar biasa bagi kita. Seperti ayah pada inti cerita Yesus (baca di artikel : Yesus Kristus Telah Bangkit Dari Kematian, lalu Apa Hubungannya Dengan Kehidupan Saya?), Allah ingin melimpahkan kita sebuah warisan berkat, yang tidak terbayangkan, dan hak istimewa. Di mata-Nya, kita spesial (khusus).

Pemberontakan Melawan Hukum Moral Allah

Pernahkan kita merenungkan Kenapa Manusia bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Lebih lanjut kita bertanya ‘Darimana berasal perasaan salah dan benar ini ?”. Kita semua mengalami rasa salah dan benar. Ketika kita membaca Hitler membunuh enam juta orang Yahudi, atau seorang pahlawan mengorbankan nyawanya untuk orang lain. Kita, secara insting, tahu bahwa salah untuk berbohong dan curang. Rasa pengakuan inilah, telah diprogram dalam hati kita dengan hukum moral, yang  pasti ada “pemberi hukum” moral itu.

Allah telah memberi kita hukum moral untuk dipatuhi.. Dan Manusia--bukan hanya menolak berhubungan dengan Allah, Manusia juga telah melanggar hukum-hukum moral yang telah ditetapkan Allah.

Sebagian besar dari kita mengetahui Sepuluh Perintah Allah: “Jangan berbohong, mencuri, membunuh, berzinah, dan seterusnya.” Yesus menyimpulkannya dengan mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan seluruh jiwa kita dan sesama manusia seperti diri kita sendiri.

Sejak laki-laki dan perempuan pertama, kita telah melanggar hukum-hukum Allah, kendati hukum ada demi kebaikan kita. Dan kita telah gagal melakukan apa yang benar. Kita mendapat warisan kondisi ini dari manusia pertama, Adam.

Yesus menyebut ini sebagai ketidakpatuhan. Dosa menyebabkan pemutusan semua hubungan: manusia dengan lingkungannya (keterasingan), individu-individu saling terpecah (rasa salah dan malu), masyrakat terputus hubungan dari masyarakat lain (perang, pembunuhan), dan manusia terputus dari Allah (kematian spiritual). Seperti mata rantai, sekali satu mata rantai putus antara Allah dengan manusia, seluruh hubungan jadi tidak menyambung lagi.Dosa pun punya konsekuensi yang mematikan.

Dosa Kita Telah Memisahkan Kita Dari Kasih Allah. Pemberontakan kita (dosa) telah menciptakan tembok pemisah antara kita dengan Allah (lihat Yesaya 59:2)

“Tapi tunggu dulu,” mungkin ini yang Anda katakan. “Bukankah Allah tahu semua sebelum Dia menciptakan kita ?

Jawabannya bisa anda baca pada artikel ini : Solusi Sempurna Allah Menyelamatkan Manusia Dari Dosa